Showing posts with label ISLAM dan PENDENGARAN. Show all posts
Showing posts with label ISLAM dan PENDENGARAN. Show all posts

Wednesday, 25 January 2012

Kepentingan pendengaran

Allah S.W.T berfirman:

… (wahai Muhammad): “Allah yang menciptakan kamu (dari tiada kepada ada), dan mengadakan bagi kamu pendengaran dan penglihatan serta hati (untuk kamu bersyukur, tetapi) amatlah sedikit kamu bersyukur”.            [AL-Mulk :24 ] 

… "bagi sesiapa yang mempunyai hati (yang sedar pada masa membacanya), atau yang menggunakan pendengarannya dengan bersungguh-sungguh (kepada pengajaran itu) dengan menumpukan hati dan fikiran kepadanya'. [Qaf:38 ]

"Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, (maka) pendengaran dan penglihatan serta kulit-kulit badan mereka menjadi saksi terhadap mereka, mengenai apa yang mereka telah kerjakan.  Dan tidaklah kamu dapat menyembunyikan (kemaksiatan kamu) , bahawa akan memberikan kesaksian pendengaran, penglihatan-penglihatan dan kulit-kulit kamu, bahkan kamu menyangka Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kamu lakukankan”.                                               [Fussilat: 21-22 ]

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak ada bagimu ilmu/pengetahuan; Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan ditanya/dipertanggungjawab​kan” (Al-Isra’ 17:36).

“Katakanlah (Muhammad): ‘ Terangkanlah kepadaku, jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan kamu, serta ditutup hati kamu, siapakah tuhan selain dari Allah yang dapat mengembalikan mereka kepada kamu’ “? (Al-An’am 6:46)

Apakah kemungkinan alasan di sebalik sebutan “mendengar” mendahului “melihat” dalam Al-Quran ?

1 – Pendengaran terbentuk lebih dahulu sebelum penglihatan di peringkat embrio, dan ia adalah deria pertama yang berfungsi dalam kehidupan. Fungsi pendengaran akan bermula pada bayi selepas kelahirannya, tidak sepertimana mata yang tidak berfungsi di saat bayi dilahirkan.

Dengan kata lain, Allah SWT menyatakan kepada kita bahawa pendengaran berfungsi pada awal bayi. Jika suatu bunyi gangguan dihasilkan berhampiran bayi yang baru lahir, dia merasa ketakutan dan menangis. Tapi jika tangan mendekati bayi yang sama, ia tidak bergerak atau tidak merasai bahayanya.

2 – Telinga lebih disukai dan lebih unggul dari mata, kerana ia tidak berhenti berfungsi semasa tidur. Sejak mula kehidupan, telinga befungsi selepas sahaja kelahiran, sementara beberapa organ lain mengambil masa beberapa hari atau tahun untuk berfungsi.

Mata memerlukan cahaya untuk melihat. Sinar cahaya yang terpantul pada objek-objek, kemudian masuk ke mata untuk melihat objek tersebut.. Jika gelap, mata tidak boleh berfungsi, tetapi telinga boleh berfungsi siang dan malam.

3 – Telinga adalah penghubung antara manusia dan dunia. Ketika Allah Yang Maha Kuasa menetapkan bahawa manusia di dalam gua tersebut tidur beberapa ratus tahun, Allah berfirman;

“Kemudian Kami tutup telinga mereka di gua itu selama beberapa tahun ” (Al-Kahfi 18: 11)

Oleh kerana itu ketika telinga tidak fungsi, orang di dalam gua tersebut tidur ratusan tahun tanpa gangguan apapun. Pergerakan bising di siang hari, berbanding dengan keheningan malam, menghalang manusia untuk tidur nyenyak. Namun, telinga tidak pernah tidur atau kehilangan perhatian.

Di dapati sebutan pendengaran mendahului penglihatan dalam Al-Quran, kecuali dalam satu ayat yang berkaitan hari kiamat di mana Allah SWT berfirman:

“Dan seandainya kamu melihat oranng-orang yang melakukan dosa menundukkan kepala mereka di hadapan Tuhan Pencipta mereka, (mereka berkata) wahai Tuhan kami , kami telah melihat dan kami mendengar , maka kembalikanlah kami (ke dunia), nescaya kami akan mengerjakan amal kebajikan , sungguh kami adalah orang –orang yang yakin”. (As-Sajdah 32: 12)

Dalam ayat ini saja Allah mendahulukan perkataan “melihat” daripada “mendengar”, apabila keadaan ngeri dan dasyatnya hari kiamat diperlihatkan kepada khalayak manusia sebelum didengari. Allah Yang Lebih Mengetahui.


Terjemahan artikel: What is the reason behind advancing hearing over sight in the Holy Quran? – Dr Sharif Kaf Al-Ghazal


Sumber:


Al-Quran


http://www.quranandscience​.com





Pendengaran : Awal dan Akhir

Hadith mengenai PENDENGARAN


1. Pancaindera yang pertama

Pendengaran lebih dahulu berfungsi dari pada penglihatan yang difahami dari informasi al-Quran, dan diperkuat oleh al-Hadits, yang mengajarkan bayi lahir diazankan dari telinga kanannya dan diiqamatkan di telinga kirinya, jika bayinya lelaki,dan diiqamatkan di telinga kanan-kirinya jika bayinya perempuan.


Diriwayatkan dari Abi Rafi’  Maula Rasulillah saw. ra.,

قاَلَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم اَذَّنَ فيِ اُذُنِ الْحُسَيْنِ بن عَلى حِيْنَ وَلَدَتْهُ فاَطِمَةُ بِا الصَّلاَةِ  رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ  . رواه ابو داود والترمذي وغيرهما

bahwa dia melihat Rasulullah SAW mengadzankan dengan adzan shalat di telinganya Husein bin Ali, ketika telah dilahirkan oleh Fathimah. Riwayat Abu Dawud, al-Turmudzy, dan rawi lainnya.
Menurut Jamaah : Dianjurkan diadzankan ditelingan kanannya dan diiqamahkan ditelinga kirinya, dan telah diriwayatkan dalam Ktab Ibnu Sinniy dari Husein bin ‘Ali, bahwa nabi SAW bersabda :

مَنْ وَلَدَ لَهُ مَوْلُوْدٌ  فَأَذَّنَ فِيْ اُذُنِهِ الْيُمْنىَ وَاَقاَمَ فِيْ اُذُنِهِ الّيُسْرىَ  لَمْ تَضُرْهُ اُمُّ الصِّبْيَانِ

Barang siapa yang anaknya lahir dan diadankan di telinga kanannya dan diiqamahkan di telinga kirinya, maka tidak akan dapat diganggu oleh Ummushshibyaan (Saithan yang diberi tugas menggoda anak yang baru lahir).






Sumber: google


2. Panca indera terakhir saat kematian


Jika dalil-dalil dan hadith-hadith di atas menunjukkan pendengaran adalah pancaindera pertama yang lebih dahulu berfungsi, maka ternyata pendengaran juga yang paling akhir  berfungsi, sehingga ketika sakratul maut, manusia dianjurkan untuk ditalqinkan, yang artinya  diajari, diingatkan, serta diajar mengucapkan kalimat syahadah:

Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya:

لَقِّنُواْ مَوْتىكُمْ بِقَوْلِ ” لآَِالهَ اِلاَّ  اللهُ

Tuntunlah oleh kamu orang yang hampir mati itu dengan bacaan “Laa ilaaha Illallaah” (tiada Tuhan selain Allah)

Hadith ini sering disalah ertikan oleh kebanyakan muslimin, bahawa orang yang sudah meninggal , saat ditalqinkan, walhal erti talqin itu sendiri adalah mengajar, bererti untuk orang yang masih dapat hidup, bermaksud sebelum mati, maka harus diajar mengucapkan Laa ilaaha Illallaah.


Sabda Rasulullah ini secara tidak langsung menunjukkan bahawa orang yang sudah hampir mati pun pendengarannya masih berfungsi. Maka dapat disimpulkan pendengaran adalah pancaindera manusia yang pertama kali berfungsi dan juga  yang terakhir.


Wa Allahu A’lam

Friday, 20 January 2012

Hikmah didahulukan pendengaran daripada penglihatan di dalam Al-Qur’an

Hikmah didahulukan pendengaran daripada penglihatan di dalam Al-Qur’an

Manusia ketika hilang matanya, maka hilanglah segalanya, hidup dalam kegelapan sepanjang waktu, tidak bisa melihat apa-apa…
Akan tetapi kalau manusia kehilangan pendengarannya, maka dia masih bisa melihat. Pada saat itu, musibah yang ia derita lebih ringan daripada ia kehilangan mata.
Akan tetapi Allah ta’alaa ketika menyebutkan kata “pendengaran” dalam Al-Qur’an selalu didahulukan daripada penglihatan.
Sungguh, ini merupakan satu mu’jizat Al-Qur’an yang mulia. Allah telah mengutamakan dan mendahulukan pendengaran daripada penglihatan. Sebab, pendengaran adalah organ manusia yang pertama kali bekerja ketika di dunia, juga merupakan organ yang pertama kali siap bekerja pada saat akhirat terjadi. Maka pendengaran tidak pernah tidur sama sekali.
Sesunguhnya pendengaran adalah organ tubuh manusia yang pertama kali bekerja ketika seorang manusia lahir di dunia. Maka, seorang bayi ketika saat pertama kali lahir, ia bisa mendengar, berbeda dengan kedua mata. Maka, seolah Allah ta’alaa ingin mengatakan kepada kita, “Sesungguhnya pendengaran adalah organ yang pertama kali mempengaruhi organ lain bekerja, maka apabila engkau datang disamping bayi tersebut beberapa saat lalu terdengar bunyi kemudian, maka ia kaget dan menangis. Akan tetapi jika engkau dekatkan kedua tanganmu ke depan mata bayi yang baru lahir, maka bayi itu tidak bergerak sama sekali (tidak merespon), tidak merasa ada bahaya yang mengancam. Ini yang pertama.
Kemudian, apabila manusia tidur, maka semua organ tubuhnya istirahat, kecuali pendengarannya. Jika engkau ingin bangun dari tidurmu, dan engkau letakkan tanganmu di dekat matamu, maka mata tersebut tidak akan merasakannya. Akan tetapi jika ada suara berisik di dekat telingamu, maka anda akan terbangun seketika. Ini yang kedua.
Adapun yang ketiga, telinga adalah penghubung antara manusia dengan dunia luar. Allah ta’alaa ketika ingin menjadikan ashhabul kahfi tidur selama 309 tahun, Allah berfirman:
فضربنا على آذانهم في الكهف سنين عددا (الكهف: 11)
Maka Kami tutup telinga-telinga mereka selama bertahun-tahun (selama 309 tahun, lihat pada ayat 25 berikutnya -pent) (Q.S. Al-Kahfi: 11)
Dari sini, ketika telinga tutup sehingga tidak bisa mendengar, maka orang akan tertidur selama beratus-ratus tahun tanpa ada gangguan. Hal ini karena gerakan-gerakan manusia pada siang hari menghalangi manusia dari tidur pulas, dan tenangnya manusia (tanpa ada aktivitas) pada malam hari menyebabkan bisa tidur pulas, dan telinga tetap tidak tidur dan tidak lalai sedikitpun.
Dan di sini ada satu hal yang perlu kami garis bawahi, yaitu sesungguhnya Allah berfirman dalam surat Fushshilat:
وما كنتم تستترون أن يشهد عليكم سمعكم ولا أبصاركم ولا جلودكم، ولكن ظننتم أن الله لا يعلمو كثيرا مما تعملون (فصلت: 22)
Dan kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian yang dilakukan oleh pendengaranmu, mata-mata kalian, dan kulit-kulit kalian terhadap kalian sendiri, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kalian kerjakan. (Q.S. Fushshilat: 22)
Kenapa kalimat “pendengaran” dalam ayat tersebut berbentuk tunggal (mufrad) dan kalimat “penglihatan” dan “kulit” dalam bentuk jamak ? Padahal, bisa saja Allah mengatakannya:
أسماعكم ولا أبصاركم ولا جلودكم
Pendengaran-pendengaran kalian, penglihatan-penglihatan kalian, dan kulit-kulit kalian.
Dan memang konteks ayatnya adalah pendengaran dan penglihatan (bentuk tunggal) atau pendengaran-pendengaran dan penglihatan-penglihatan (bentuk jamak). Akan tetapi Allah ta’alaa dalam ayat di atas -yang demikian rinci dan jelas- ingin mengungkapkan kepada kita tentang keterperincian Al-Qur’an yang mulia. Maka mata adalah indera yang bisa diatur sekehendak manusia, saya bisa melihat dan bisa tidak melihat, saya bisa memejamkan mata bila saya tidak ingin melihat sesuatu, memalingkan wajahku ke arah lain, atau pun mengalihkan pandanganku ke yang lain yang ingin saya lihat. Akan tetapi telinga tidak memiliki kemampuan itu, ingin mendengar atau tidak ingin mendengar, maka anda tetap mendengarnya. Misalnya, anda dalam sebuah ruangan yang di sana ada 10 orang yang saling berbicara, maka anda akan mendengar semua suara mereka, baik anda ingin mendengarnya atau tidak; anda bisa memalingkan pandangan anda, maka anda akan melihat siapa saja yang ingin anda lihat dan anda tidak bisa melihat orang yang tidak ingin anda lihat. Akan tetapi, anda tidak mampu mendengarkan apa yang ingin anda dengar perkataannya dan tidak juga mampu untuk tidak mendengar orang yang tidak ingin anda dengar. Paling-paling anda hanya bisa seolah-olah tidak tahu atau seolah-olah tidak mendengar suara yang tidak ingin anda dengar, akan tetapi pada hakikatnya semua suara tersebut sampai ke telinga anda, mau atau pun tidak.
Jadi, mata memiliki kemampuan untuk memilih; anda bisa melihat yang itu atau memalingkan pandangan mata dari hal itu, saya pun demikian, dan orang lain pun demikian, sedangkan pendengaran; setiap kita mendengar apa saja yang berbunyi, diinginkan atau pun tidak. Dari hal ini, maka setiap mata berbeda-beda pada yang dilihatnya, akan tetapi pendengaran mendengar hal yang sama. Setiap kita memiliki mata, ia melihat apa saja yang ia mau lihat; akan tetapi kita tidak mampu memilih hal yang mau kita dengarkan, kita mendengarkan apa saja yang berbunyi, suka atau tidak suka, sehingga pantas Allah ta’alaa menyebutkan kalimat “pandangan” dalam bentuk jamak, dan kalimat “pendengaran” dalam bentuk tunggal, meskipun kalimat pendengaran didahulukan daripada kalimat penglihatan. Maka pendengaran tidak pernah tidur atau pun istirahat. Dan organ tubuh yang tidak pernah tidur maka lebih tinggi (didahulukan) daripada makhluk atau organ yang bisa tidur atau istirahat. Maka telinga tidak tidur selama-lamanya sejak awal kelahirannya, ia bisa berfungsi sejak detik pertama lahirnya kehidupan yang pada saat organ-organ lainnya baru bisa berfungsi setelah beberapa saat atau beberapa hari, bahkan sebagian setelah beberapa tahun kemudian, atau pun 10 tahun lebih.
Dan telinga tidak pernah tidur, ketika engkau sedang tidur maka semua organ tubuhmu tidur atau istirahat, kecuali telinga. Jika terdengar suara disampingmu maka spontan engkau akan terbangun. Akan tetapi, jika fungsi telinga terhenti, maka hiruk-pikuk aktivitas manusia di siang hari dan semua bunyi yang ada tidak akan membangunkan tidur kita, sebab alat pendengarannya (penerima bunyi) yaitu telinga tidak bisa menerima sinyal ini. Dan telinga pulalah yang merupakan alat pendengar panggilan penyeru pada hari qiamat kelak ketika terompet dibunyikan.
Dan mata membutuhkan cahaya untuk bisa melihat, sedangkan telinga tidak memerlukan hal lain. Maka, jika dunia dalam keadaan gelap, maka mata tidak bisa melihat, walaupun mata anda tidak rusak. Akan tetapi telinga bisa mendengar apapun, baik siang maupun malam; dalam gelap maupun terang benderang. Maka telinga tidak pernah tidur dan tidak pernah berhenti berfungsi.
by: @ndhief